Rabu, 04 November 2009

Bisnis Kelapa

LIWA (Lampost): Kabupaten Lampung Barat (Lambar) akan membangun industri kelapa di kawasan usaha agroindustri terpadu (KUAT).

Demikian disampaikan Kusnandar dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta dalam seminar Master Plan Pembangunan KUAT Kabupaten Lambar di Office Room Bupati setempat, Kamis (30-11). Seminar ini dihadiri Deputi Bidang Teknologi BPPT Dr. Wahono Sumaryo.

Yang melatarbelakangi pembangunan industri tersebut karena tingginya produksi kelapa dalam di wilayah Lambar, khususnya daerah pesisir. Di mana produksi kelapa tersebut belum diolah dengan baik. Bahkan penjualannya masih dalam bentuk butiran dengan kualitas asalan. Karena itu, rencana pembangunan industri kelapa terpadu di KUAT tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing bagi komoditas kelapa yang menjadi unggulan daerah. Sekaligus menambah nilai tambah produk dan menambah kesejahteraan masyarakat. Ia menguraikan potensi lahan kelapa dalam di Lambar mencapai 40.030 hektare. Namun, pemanfaatannya hingga saat ini baru mencapai 6.326 hektare (16%) dengan produksi 2.413 ton/tahun dengan penjualan masih dalam bentuk butiran. Padahal angka permintaan pasar akan produksi kelapa bernilai ekonomi tinggi yang setiap tahunnya terus meningkat. Antara lain untuk kebutuhan minyak kelapa, dessicated coco, coco fiber, dan arang batok kelapa. Adapun program kegiatan industri kelapa terpadu yang utama adalah dessicated coconut, coco powder, dan minyak kelapa. Kegiatan pendukung lainnya nata de coco, serat sabut kelapa, briket arang, dan asap cair.

"Agar produksi kelapa ini tidak putus, perlu dipikirkan tentang kelangsungan permintaan bahan baku kelapa untuk industri misalnya dengan melakukan penanaman baru dengan bibit yang baik," kata dia. Sementara, Dr. Heri Purwanto dari BPPT memaparkan prospektif kelapa. Di antaranya untuk minyak kelapa dan nata de coco yang saat ini kebutuhannya terus meningkat. "Industri nata de coco memiliki prospek cerah sebagai salah satu komoditas komersial untuk mengikuti jejak produk olahan kelapa lainnya," kata dia. Kelapa ini, ujarnya, jika semuanya dapat dimanfaatkan, tidak akan ada yang terbuang. Sebab mulai sabut kelapa, air kelapa, maupun tempurung kelapa, semuanya dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi.n ELI/D-2


Pemanfaatan jaring kelapa

Lahan tambang bekas galian yang tersebar di daerah-daerah penghasil bahan tambang terlihat sangat mengerikan.
Kerusakan yang diciptakannya berpotensi menyebabkan tanah longsor, erosi, pengikisan air tanah, bahkan banjir. Hal itu banyak terjadi di daerah seperti di pulau Belitong, Berau dan tempat-tempat lainnya. Contoh konkrit seperti kalimantan, sekarang telah menjadi langganan Banjir, manakala musim penghujan tiba.
Kerusakan alam yang terjadi ini, membutuhkan penanganan serius dari semua pihak, terutama pengelola tambang. Mereka diwajibkan mereklamasi lahan bekas galian tambang. ada banyak langkah yang bisa dilakukan untuk mereklamasi lahan bekas galian tambang tsb seperti menanam kembali lahan, atau merubah areal lahan tersebut untuk usaha produktif seperti perikanan dll.
Langkah terbaik untuk mengurangi kerusakan tersebut adalah dengan menanaminya kembali, reboisasasi. Namun ada langkah penting sebelum dilakukan proses reboisasi, yaitu dengan menanam lahan dengan Cocomesh. Cocomesh adalah jaring yang dibuat dari sabut kelapa. Biasanya dibuat seperti seukuran net bola volly atau dapat disesuaikan dengan kebutuhan lahan. Penggunaan Cocomesh ini terbukti efektif dalam mencegah longsor ataupun banjir. Dengan mematok ujung-ujungnya, cocomesh dihamparkan dalam lahan bekas galian tambang. pemasangannnya disesuaikan dengan struktur tanah. Bisa miring, atau datar. Untuk Pemasangan biasanya dibuat dalam 2 lapisan. (kutipan: Arief Nugroho)